Konsep CCP dalam sebuah Profesi: Episode Jurnalis

metode ccp

Halo Kawan Bicara! Kali ini penulis ingin mengajak kamu untuk mengupas fakta konsep Confident, Content, dan Performance(CCP) khas Talkactive.id kedalam kehidupan profesi jurnalis, alias penyambung informasi kepada masyarakat.

Pernahkah kamu mendengar nama jurnalis terkenal semacam Andreas Harsono, Dandhy Dwi Laksono, Goenawan Mohamad, dan Ira Koesno? Atau lebih mengenal sosok Najwa Shihab dengan brand Mata Najwa?

Mungkin juga, ada yang merasa familiar dengan mantan jurnalis seperti; Meutya Hafid yang sudah menjadi anggota DPR RI dan Grace Natalie yang saat ini menjadi Ketua Umum sebuah partai politik di Indonesia.

Namun hal itu tak masalah karena menjadi jurnalis bisa menambah popularitas seseorang jika menghasilkan karya yang bagus dalam dunia jurnalistik. Menurut kamu bagaimana menjadi seorang jurnalis? Apa kaitannya dengan konsep CCP seperti yang telah disebutkan?

Baiklah, penulis ingin menggaris bawahi bahwa profesi jurnalis harus membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, paham isu yang akan dikupas dan disajikan, dan perlu keterampilan yang komunikatif agar proses jurnalisne yang sedang dikerjakan, dapat berjalan dengan baik.

Perlu diketahui, penulis tidak akan mengupas pandangan terhadap profesi jurnalis secara teoritis atau dengan konsep keilmuan apapun. Karena melalui tulisan ini, penulis akan hanya membeberkan sebuah relevansi konsep CCP dari Talkactive yang bisa diaplikasikan dalam profesi apapun.

(baca juga: Belajar Dari Para Komika Stand Up Comedy Dalam Berkomunikasi)

Hal pertama yang akan penulis ulas adalah confident. Menjadi jurnalis, kamu harus berani, dan percaya akan kemampuan diri untuk menyuarakan kebenaran. Jika seorang jurnalis merasa tidak mampu melakukan tersebut, ia akan kesulitan dalam bekerja.

Sehingga, ia dituntut untuk percaya dengan nalarnya sendiri terkait isu apapun yang akan diungkap demi kepentingan masyarakat. Kita mengambil contoh, seorang wartawan A mendapatkan isu ada parkir liar disebuah pasar. Ia harus percaya diri untuk memulai mengungkap fakta tersebut.

Jika ia sudah merasa informasi yang dikumpulkan sudah tepat, maka si jurnalis sudah bisa memasuki bagian content atau konten seperti apa yang akan dinarasikan pada berita yang akan sampaikan kepada masyarakat. Perlu diketahui, hal ini berlaku bagi jurnalis media cetak, elektronik(Televisi dan Radio), dan daring(online).

Kemudian, pada bagian konten yang disajikan harus semenarik mungkin. Bagi jurnalis yang berbasis penulisan, sudut pandang berita yang akan dinarasikan harus mudah dimengerti masyarakat. Dalam hal ini berlaku untuk jenis berita peristiwa, artikel, feature(hasil reportase yang disajikan dengan santai), maupun liputan khusus.

Sedangkan, untuk jurnalis yang berbasis audio-visual dituntut bisa menghasilkan sebuah gambar (foto dan video) yang bisa menarasikan sebuah kejadian sehingga masyarakat paham akan peristiwa tersebut. Jenis berita audio-visual kurang lebih sama dengan yang berbasis tulisan.

Konten pada berita harus dibuat secara penuh pertimbangan dan data serta fakta yang lengkap. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir segala kesalahan yang nantinya akan menciderai makna jurnalisme pada karya jurnalistik tersebut. Sehingga, konten pada sebuah berita dikontrol ketat oleh redaksi masing-masing industri media melakui prosedur yang tepat.

Nah, Kawan Bicara! Kali ini penulis akan membahas performa dari sang jurnalis. Jujur, penulis meskipun masih menggeluti dunia jurnalistik, masih merasa tak punya hak untuk menilai performa seperti apa jurnalis dalam bekerja. Hal ini pun sangat jarang ditemukan di lembaga pendidikan manapun untuk mengetahui proses peliputan secara praktek.

Sepengamatan penulis dilapangan, banyak cara jurnalis dalam bekerja saat meraih data untuk konten berita. Ada yang berpakaian formal untuk peliputan di instansi pemerintahan seperti, meliput presiden dan menteri. Hal ini kita tentu harus berpakaian rapi, tanpa menggunakan kaos T-shirt dan jeans saja.

Lalu untuk liputan peristiwa seperti laporan bencana, dan kriminalitas biasanya wartawan tidak akan berpakaian mencolok dan cenderung membaur dengan warga sekitar agar lebih memudahkan proses pengumpulan data.(Hal ini tidak berlaku bagi jurnalis televisi karena pasti akan terlihat mencolok).

Intinya, jurnalis harus paham dalam berpenampilan saat melakukan peliputan, tergantung situasi dan kondisi. Lalu, hal sakral yang perlu diperhatikan adalah daftar pertanyaan bagi narasumber. Upayakan pertanyaan jurnalis dimulai dari hal yang bersifat basa-basi, agar bisa membangun suasana santai.

Sehingga narasumber merasa diperhatikan dan diperlakukan dengan baik. Karena tidak jarang narasumber enggan melanjutkan pembicaraan dengan jurnalis karena merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan.

Baiklah, sekian dulu episode jurnalis dalam kaidah CCP ala Talkactive. Bagaimana tanggapan kamu sobat talkactive? Profesi apalagi yang sangat punya relevansi dengan konsep CCP?(*)

Penulis: Mustaqim Amna

Sumber Gambar: Pexels.com

Share This:

metode ccp

Halo Kawan Bicara! Kali ini penulis ingin mengajak kamu untuk mengupas fakta konsep Confident, Content, dan Performance(CCP) khas Talkactive.id kedalam kehidupan profesi jurnalis, alias penyambung informasi kepada masyarakat.

Pernahkah kamu mendengar nama jurnalis terkenal semacam Andreas Harsono, Dandhy Dwi Laksono, Goenawan Mohamad, dan Ira Koesno? Atau lebih mengenal sosok Najwa Shihab dengan brand Mata Najwa?

Mungkin juga, ada yang merasa familiar dengan mantan jurnalis seperti; Meutya Hafid yang sudah menjadi anggota DPR RI dan Grace Natalie yang saat ini menjadi Ketua Umum sebuah partai politik di Indonesia.

Namun hal itu tak masalah karena menjadi jurnalis bisa menambah popularitas seseorang jika menghasilkan karya yang bagus dalam dunia jurnalistik. Menurut kamu bagaimana menjadi seorang jurnalis? Apa kaitannya dengan konsep CCP seperti yang telah disebutkan?

Baiklah, penulis ingin menggaris bawahi bahwa profesi jurnalis harus membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, paham isu yang akan dikupas dan disajikan, dan perlu keterampilan yang komunikatif agar proses jurnalisne yang sedang dikerjakan, dapat berjalan dengan baik.

Perlu diketahui, penulis tidak akan mengupas pandangan terhadap profesi jurnalis secara teoritis atau dengan konsep keilmuan apapun. Karena melalui tulisan ini, penulis akan hanya membeberkan sebuah relevansi konsep CCP dari Talkactive yang bisa diaplikasikan dalam profesi apapun.

(baca juga: Belajar Dari Para Komika Stand Up Comedy Dalam Berkomunikasi)

Hal pertama yang akan penulis ulas adalah confident. Menjadi jurnalis, kamu harus berani, dan percaya akan kemampuan diri untuk menyuarakan kebenaran. Jika seorang jurnalis merasa tidak mampu melakukan tersebut, ia akan kesulitan dalam bekerja.

Sehingga, ia dituntut untuk percaya dengan nalarnya sendiri terkait isu apapun yang akan diungkap demi kepentingan masyarakat. Kita mengambil contoh, seorang wartawan A mendapatkan isu ada parkir liar disebuah pasar. Ia harus percaya diri untuk memulai mengungkap fakta tersebut.

Jika ia sudah merasa informasi yang dikumpulkan sudah tepat, maka si jurnalis sudah bisa memasuki bagian content atau konten seperti apa yang akan dinarasikan pada berita yang akan sampaikan kepada masyarakat. Perlu diketahui, hal ini berlaku bagi jurnalis media cetak, elektronik(Televisi dan Radio), dan daring(online).

Kemudian, pada bagian konten yang disajikan harus semenarik mungkin. Bagi jurnalis yang berbasis penulisan, sudut pandang berita yang akan dinarasikan harus mudah dimengerti masyarakat. Dalam hal ini berlaku untuk jenis berita peristiwa, artikel, feature(hasil reportase yang disajikan dengan santai), maupun liputan khusus.

Sedangkan, untuk jurnalis yang berbasis audio-visual dituntut bisa menghasilkan sebuah gambar (foto dan video) yang bisa menarasikan sebuah kejadian sehingga masyarakat paham akan peristiwa tersebut. Jenis berita audio-visual kurang lebih sama dengan yang berbasis tulisan.

Konten pada berita harus dibuat secara penuh pertimbangan dan data serta fakta yang lengkap. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir segala kesalahan yang nantinya akan menciderai makna jurnalisme pada karya jurnalistik tersebut. Sehingga, konten pada sebuah berita dikontrol ketat oleh redaksi masing-masing industri media melakui prosedur yang tepat.

Nah, Kawan Bicara! Kali ini penulis akan membahas performa dari sang jurnalis. Jujur, penulis meskipun masih menggeluti dunia jurnalistik, masih merasa tak punya hak untuk menilai performa seperti apa jurnalis dalam bekerja. Hal ini pun sangat jarang ditemukan di lembaga pendidikan manapun untuk mengetahui proses peliputan secara praktek.

Sepengamatan penulis dilapangan, banyak cara jurnalis dalam bekerja saat meraih data untuk konten berita. Ada yang berpakaian formal untuk peliputan di instansi pemerintahan seperti, meliput presiden dan menteri. Hal ini kita tentu harus berpakaian rapi, tanpa menggunakan kaos T-shirt dan jeans saja.

Lalu untuk liputan peristiwa seperti laporan bencana, dan kriminalitas biasanya wartawan tidak akan berpakaian mencolok dan cenderung membaur dengan warga sekitar agar lebih memudahkan proses pengumpulan data.(Hal ini tidak berlaku bagi jurnalis televisi karena pasti akan terlihat mencolok).

Intinya, jurnalis harus paham dalam berpenampilan saat melakukan peliputan, tergantung situasi dan kondisi. Lalu, hal sakral yang perlu diperhatikan adalah daftar pertanyaan bagi narasumber. Upayakan pertanyaan jurnalis dimulai dari hal yang bersifat basa-basi, agar bisa membangun suasana santai.

Sehingga narasumber merasa diperhatikan dan diperlakukan dengan baik. Karena tidak jarang narasumber enggan melanjutkan pembicaraan dengan jurnalis karena merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan.

Baiklah, sekian dulu episode jurnalis dalam kaidah CCP ala Talkactive. Bagaimana tanggapan kamu sobat talkactive? Profesi apalagi yang sangat punya relevansi dengan konsep CCP?(*)

Penulis: Mustaqim Amna

Sumber Gambar: Pexels.com

Share This:

More Articles

News

Menu