fbpx

Konsep Komunikasi Dalam Sebuah Profesi: Episode Dokter

komunikasi dalam dunia kesehatan

Kawan Bicara, apakah profesi dalam dunia kesehatan seperti Dokter membutuhkan komunikasi? Yuk, kita bahas!

Komunikasi Dalam Dunia Kesehatan

Di dunia kesehatan, komunikasi pun tidak dapat dihindari.Sebenarnya, komunikasi dalam dunia kesehatan(komunikasi kesehatan) melibatkan dokter, pasien, dan keluarganya. Karena, ketika pasien datang menyampaikan keluhannya, harus didengar, dan ditanggapi oleh dokter sebagai respon dari keluhan tersebut.

Seorang pasien yang datang berobat memiliki harapan akan kesembuhan penyakitnya, sedangkan seorang dokter mempunyai kewajiban memberikan pengobatan sebaik mungkin.
Komunikasi kesehatan antara dokter dan pasien yang dulu menganut pola paternalistik (kepemimpinan) dengan dokter pada posisi yang lebih dominan sudah saatnya diubah menjadi setara antara dokter dan pasien.

Efektivitas komunikasi yang baik antara kedua belah pihak akan berdampak pada kesehatan yang lebih baik, kenyamanan, kepuasan pada pasien, dan penurunan resiko malpraktik, serta perselisihan atau sengketa yang terjadi antara dokter dan pasien.

Salah satu anggota Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Khie Chen yang dikutip (Dianne Berry, 2007:27) mengemukakan bahwa terjadinya sengketa medis lebih sering disebabkan kesenjangan persepsi antara dokter dan pasien. Pada sisi lain, pasien dan keluarga merasa kurang puas dengan proses atau hasil pengobatan yang dilakukan, sedangkan pada sisi lain, dokter dan pihak rumah sakit merasa sudah melakukan pengobatan secara optimal.

Sengketa medis ini terjadi karena adanya perbedaan persepsi antara dokter dan pasien mengenai penyakit, adanya ekspektasi yang berlebihan dari pasien terhadap dokter, adanya perbedaan “bahasa”, makna pesan, dokter dengan pasien, atau ketidaksiapan dokter untuk menjalin komunikasi yang membangun empati.

Komunikasi kesehatan antara dokter dan pasien merupakan jenis komunikasi yang berlangsung secara transaksional, “face to face”, dan berlansung secara langsung.

Jenis komunikasi ini melibatkan dua orang yang berbeda posisi, tidak sukarela, isi pesan yang penting sehingga membutuhkan kerjasama yang baik seperti dikemukakan oleh Ong, dkk. (1995) bahwa:

The doctor–patient relationship is one of the most complex interpersonal relationships. It involves the interaction between people in non-equal positions, is often non-voluntary, concerns issues of vital importance, is emotionally laden and requires close cooperation‘.

Komunikasi antara dokter dan pasien adalah bentuk komunikasi kesehatan yang sifatnya interpersonal yang komplek. Proses komunikasi ini dikontrol bagaimana bentuk hubungan yang berlangsung dalam proses komunikasi tersebut.

Dalam mengevaluasi pola kontrol komunikasi antara dokter dan pasien menurut Roter dan Hall (1992) menggambarkan empat dasar bentuk hubungan antara dokter dan pasien yaitu : bentuk standar (default), bentuk paternalistik (paternalistic), konsumtif (consumerist) dan mutualistik (mutualistic).

Hubungan standar ditandai dengan kurangnya kontrol di kedua pihak baik dokter maupun si pasien , dan jelas jauh dari ideal. Bentuk paternalistik ditandai hubungan oleh dokter yang dominan dan pasien pasif, sedangkan konsumerisme dikaitkan dengan sebaliknya, dengan itu fokus pada “hak dan kewajiban” dokter kepada pasien.

Akhirnya, bentuk hubungan mutualistik ditandai oleh berbagi dalam pengambilan keputusan, dan sering menganjurkan jenis hubunga terbaik untuk saling memahami (Dianne Berry, 2007;75).

Bentuk hubungan Komunikasi antara dokter dan pasien ditekankan pada terjadinya komunikasi efektif antara dokter dan pasien yang memberikan manfaat. Edelmann (2000) mengidentifikasi empat faktor utama yang mungkin mempengaruhi sifat dan efektivitas komunikasi antara dokter dan pasien, yaitu :

1. Karakteristik dokter (jenis kelamin dan pengalaman)
2. Karakteristik pasien (jenis kelamin, kelas sosial, usia, pendidikan dan keinginan akan informasi)
3. Perbedaan antara kedua belah pihak dalam hal kelas sosial dan pendidikan sikap, keyakinan dan harapan .
4. Faktor-faktor situasional (beban pasien, tingkat kenalan dan sifat masalah yang diajukan).

Pasien sering menemukan diri mereka di lingkungan yang asing, terpisah dari keluarga dan teman-teman, dengan kehilangan ruang pribadi, privasi dan kemandirian, dan sering merasa tidak pasti tentang masalah kesehatan dan pengobatan. Faktor-faktor ini sering menyebabkan mereka merasa sangat rentan, dan cenderung mempengaruhi cara mereka berkomunikasi dengan dokter atau profesional kesehatan lainnya (Dianne Berry, 2007: 12).

Menariknya, dokter dan pasien memiliki perspektif sangat berbeda pada faktor-faktor yang mereka pandang sebagai hal paling mendasar dalam komunikasi dokter-pasien. Sebagai mana dikutip oleh Dianne Berry, (2007;13-15) dipaparkan dalam suatu hasil penelitian sederhana dengan meminta para dokter dan pasien untuk mengungkapkan pandangan mereka tentang dokter yang baik, adalah :

‘The doctors stated that ‘diagnostic ability’ was the most important quality of a good doctor, whereas the patients said that ‘listening’ was the most important aspect. This latter aspect was rated as being least important by the doctors’

Para dokter menyatakan bahwa “kemampuan diagnostik” adalah kualitas yang paling penting dari seorang dokter yang baik, sedangkan pasien mengatakan bahwa “mendengarkan” adalah aspek yang paling penting.

Temuan sejalan oleh Delamothe (1998), yang menemukan bahwa atas tiga kategori pandangan yang paling mempengaruhi pilihan pasien untuk kategori dokter yang baik, sebagai mana kutipan oleh Dianne Berry, (2007;26) berikut ini :

Three categories for what most influences a patient’s choice of good doctor were ‘how well the doctor communicates with patients and shows a caring attitude’, ‘explaining medical or technical procedures in an easy to understand way’ and ‘listening and taking the time to ask questions’. In contrast, the aspects most highly rated by doctors were ‘number of years of practice’ and ‘whether the doctor had attended a well known medical school

Berdasarkan penjelasan kutipan di atas menyebutkan bahwa dokter yang baik adalah dokter berkomunikasi dengan pasien dan menunjukkan sikap peduli, menjelaskan prosedur medis atau teknis dengan cara yang mudah-dipahami dan mendengarkan dan meluangkan waktu untuk mengajukan pertanyaan. Sebaliknya, aspek yang paling dinilai tinggi oleh dokter jumlah tahun praktek dan apakah dokter telah menempuh pendidikan kedokteran di tempat terkenal.

Komunikasi dokter dan pasien sebagai bentuk perilaku yang terjadi dalam berkomunikasi yaitu bagaimana pelaku (dokter dan pasien) mengelolah dan mentransformasikan dan pertukaran suatu pesan. Dalam proses pertukaran pesan komunikasi antara dokter dan pasien merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses komunikasi itu sendiri.

Suatu proses kesehatan antara dokter dan pasien bersifat dua-arah terjadi bilamana orang yang terlibat didalamnya berusaha menciptakan dan menyampaikan informasi kepada penerima. Dalam hal ini sumber dan penerima (dokter dan pasien) harus menyampaikan serta menanggapi pesan tersebut secara jelas, lengkap, benar, dan saling mengerti di antara mereka.

Kesimpulannya adalah bahwa komunikasi kesehatan dokter dan pasien yang sukses dan komunikatif akan berdampak positif bagi pasien. Hal ini menjadi penentu utama dari kepuasan pasien dan kepatuhan terhadap pengobatan dan perawatan.

Secara khusus hubungan interpersonal dokter dan pasien akan membaik ketika konteks komunikasi interpersonal berlangsung dengan keramahan dokter, perilaku sopan, percakapan sosial, perilaku mendorong dan empatik, dan membangun kemitraan, dan ekspresi empati selama konsultasi. Bagaimana menurut kamu, Kawan Bicara?

Daftar Pustaka
Brown, H., Ramchandani, M., Gillow, J. and Tsaloumas, M. (2004). Are patient information leaflets contributing to informed consent for cataract surgery?, Journal of Medical Ethics, 30, 218–20

Dianne Berry 2007. Health Communication: Theory and Practice. McGraw-Hill
Education, New York, NY

Edelmann, R.J. (2000). Psychosocial Aspects of the Health Care Process. London: Prentice Hall.

Edwards, I.R. and Hugman, B. (1997). The Challenge of Effectively Communicating
Risk-Benefit Information, Drug Safety

Source:
Gambar: Unsplash.com

Share This:

komunikasi dalam dunia kesehatan

Kawan Bicara, apakah profesi dalam dunia kesehatan seperti Dokter membutuhkan komunikasi? Yuk, kita bahas!

Komunikasi Dalam Dunia Kesehatan

Di dunia kesehatan, komunikasi pun tidak dapat dihindari.Sebenarnya, komunikasi dalam dunia kesehatan(komunikasi kesehatan) melibatkan dokter, pasien, dan keluarganya. Karena, ketika pasien datang menyampaikan keluhannya, harus didengar, dan ditanggapi oleh dokter sebagai respon dari keluhan tersebut.

Seorang pasien yang datang berobat memiliki harapan akan kesembuhan penyakitnya, sedangkan seorang dokter mempunyai kewajiban memberikan pengobatan sebaik mungkin.
Komunikasi kesehatan antara dokter dan pasien yang dulu menganut pola paternalistik (kepemimpinan) dengan dokter pada posisi yang lebih dominan sudah saatnya diubah menjadi setara antara dokter dan pasien.

Efektivitas komunikasi yang baik antara kedua belah pihak akan berdampak pada kesehatan yang lebih baik, kenyamanan, kepuasan pada pasien, dan penurunan resiko malpraktik, serta perselisihan atau sengketa yang terjadi antara dokter dan pasien.

Salah satu anggota Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Khie Chen yang dikutip (Dianne Berry, 2007:27) mengemukakan bahwa terjadinya sengketa medis lebih sering disebabkan kesenjangan persepsi antara dokter dan pasien. Pada sisi lain, pasien dan keluarga merasa kurang puas dengan proses atau hasil pengobatan yang dilakukan, sedangkan pada sisi lain, dokter dan pihak rumah sakit merasa sudah melakukan pengobatan secara optimal.

Sengketa medis ini terjadi karena adanya perbedaan persepsi antara dokter dan pasien mengenai penyakit, adanya ekspektasi yang berlebihan dari pasien terhadap dokter, adanya perbedaan “bahasa”, makna pesan, dokter dengan pasien, atau ketidaksiapan dokter untuk menjalin komunikasi yang membangun empati.

Komunikasi kesehatan antara dokter dan pasien merupakan jenis komunikasi yang berlangsung secara transaksional, “face to face”, dan berlansung secara langsung.

Jenis komunikasi ini melibatkan dua orang yang berbeda posisi, tidak sukarela, isi pesan yang penting sehingga membutuhkan kerjasama yang baik seperti dikemukakan oleh Ong, dkk. (1995) bahwa:

The doctor–patient relationship is one of the most complex interpersonal relationships. It involves the interaction between people in non-equal positions, is often non-voluntary, concerns issues of vital importance, is emotionally laden and requires close cooperation‘.

Komunikasi antara dokter dan pasien adalah bentuk komunikasi kesehatan yang sifatnya interpersonal yang komplek. Proses komunikasi ini dikontrol bagaimana bentuk hubungan yang berlangsung dalam proses komunikasi tersebut.

Dalam mengevaluasi pola kontrol komunikasi antara dokter dan pasien menurut Roter dan Hall (1992) menggambarkan empat dasar bentuk hubungan antara dokter dan pasien yaitu : bentuk standar (default), bentuk paternalistik (paternalistic), konsumtif (consumerist) dan mutualistik (mutualistic).

Hubungan standar ditandai dengan kurangnya kontrol di kedua pihak baik dokter maupun si pasien , dan jelas jauh dari ideal. Bentuk paternalistik ditandai hubungan oleh dokter yang dominan dan pasien pasif, sedangkan konsumerisme dikaitkan dengan sebaliknya, dengan itu fokus pada “hak dan kewajiban” dokter kepada pasien.

Akhirnya, bentuk hubungan mutualistik ditandai oleh berbagi dalam pengambilan keputusan, dan sering menganjurkan jenis hubunga terbaik untuk saling memahami (Dianne Berry, 2007;75).

Bentuk hubungan Komunikasi antara dokter dan pasien ditekankan pada terjadinya komunikasi efektif antara dokter dan pasien yang memberikan manfaat. Edelmann (2000) mengidentifikasi empat faktor utama yang mungkin mempengaruhi sifat dan efektivitas komunikasi antara dokter dan pasien, yaitu :

1. Karakteristik dokter (jenis kelamin dan pengalaman)
2. Karakteristik pasien (jenis kelamin, kelas sosial, usia, pendidikan dan keinginan akan informasi)
3. Perbedaan antara kedua belah pihak dalam hal kelas sosial dan pendidikan sikap, keyakinan dan harapan .
4. Faktor-faktor situasional (beban pasien, tingkat kenalan dan sifat masalah yang diajukan).

Pasien sering menemukan diri mereka di lingkungan yang asing, terpisah dari keluarga dan teman-teman, dengan kehilangan ruang pribadi, privasi dan kemandirian, dan sering merasa tidak pasti tentang masalah kesehatan dan pengobatan. Faktor-faktor ini sering menyebabkan mereka merasa sangat rentan, dan cenderung mempengaruhi cara mereka berkomunikasi dengan dokter atau profesional kesehatan lainnya (Dianne Berry, 2007: 12).

Menariknya, dokter dan pasien memiliki perspektif sangat berbeda pada faktor-faktor yang mereka pandang sebagai hal paling mendasar dalam komunikasi dokter-pasien. Sebagai mana dikutip oleh Dianne Berry, (2007;13-15) dipaparkan dalam suatu hasil penelitian sederhana dengan meminta para dokter dan pasien untuk mengungkapkan pandangan mereka tentang dokter yang baik, adalah :

‘The doctors stated that ‘diagnostic ability’ was the most important quality of a good doctor, whereas the patients said that ‘listening’ was the most important aspect. This latter aspect was rated as being least important by the doctors’

Para dokter menyatakan bahwa “kemampuan diagnostik” adalah kualitas yang paling penting dari seorang dokter yang baik, sedangkan pasien mengatakan bahwa “mendengarkan” adalah aspek yang paling penting.

Temuan sejalan oleh Delamothe (1998), yang menemukan bahwa atas tiga kategori pandangan yang paling mempengaruhi pilihan pasien untuk kategori dokter yang baik, sebagai mana kutipan oleh Dianne Berry, (2007;26) berikut ini :

Three categories for what most influences a patient’s choice of good doctor were ‘how well the doctor communicates with patients and shows a caring attitude’, ‘explaining medical or technical procedures in an easy to understand way’ and ‘listening and taking the time to ask questions’. In contrast, the aspects most highly rated by doctors were ‘number of years of practice’ and ‘whether the doctor had attended a well known medical school

Berdasarkan penjelasan kutipan di atas menyebutkan bahwa dokter yang baik adalah dokter berkomunikasi dengan pasien dan menunjukkan sikap peduli, menjelaskan prosedur medis atau teknis dengan cara yang mudah-dipahami dan mendengarkan dan meluangkan waktu untuk mengajukan pertanyaan. Sebaliknya, aspek yang paling dinilai tinggi oleh dokter jumlah tahun praktek dan apakah dokter telah menempuh pendidikan kedokteran di tempat terkenal.

Komunikasi dokter dan pasien sebagai bentuk perilaku yang terjadi dalam berkomunikasi yaitu bagaimana pelaku (dokter dan pasien) mengelolah dan mentransformasikan dan pertukaran suatu pesan. Dalam proses pertukaran pesan komunikasi antara dokter dan pasien merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses komunikasi itu sendiri.

Suatu proses kesehatan antara dokter dan pasien bersifat dua-arah terjadi bilamana orang yang terlibat didalamnya berusaha menciptakan dan menyampaikan informasi kepada penerima. Dalam hal ini sumber dan penerima (dokter dan pasien) harus menyampaikan serta menanggapi pesan tersebut secara jelas, lengkap, benar, dan saling mengerti di antara mereka.

Kesimpulannya adalah bahwa komunikasi kesehatan dokter dan pasien yang sukses dan komunikatif akan berdampak positif bagi pasien. Hal ini menjadi penentu utama dari kepuasan pasien dan kepatuhan terhadap pengobatan dan perawatan.

Secara khusus hubungan interpersonal dokter dan pasien akan membaik ketika konteks komunikasi interpersonal berlangsung dengan keramahan dokter, perilaku sopan, percakapan sosial, perilaku mendorong dan empatik, dan membangun kemitraan, dan ekspresi empati selama konsultasi. Bagaimana menurut kamu, Kawan Bicara?

Daftar Pustaka
Brown, H., Ramchandani, M., Gillow, J. and Tsaloumas, M. (2004). Are patient information leaflets contributing to informed consent for cataract surgery?, Journal of Medical Ethics, 30, 218–20

Dianne Berry 2007. Health Communication: Theory and Practice. McGraw-Hill
Education, New York, NY

Edelmann, R.J. (2000). Psychosocial Aspects of the Health Care Process. London: Prentice Hall.

Edwards, I.R. and Hugman, B. (1997). The Challenge of Effectively Communicating
Risk-Benefit Information, Drug Safety

Source:
Gambar: Unsplash.com

Share This:

More Articles

News

Menu
Open chat