fbpx

Mengenal Komunikasi Asertif Beserta Cara Mempelajarinya

Pernahkah Kawan Bicara mengalami kejadian dimana saat mampu mengekspresikan diri dengan jujur dan mempertahankan sudut pandang kita saat berkomunikasi, sambil tetap menghormati hak orang lain dan terbuka terhadap perspektif mereka?

Jika ada yang kurang paham, penulis akan menjelaskan bahwa hal ini dikenal sebagai komunikasi asertif. Komunikasi asertif adalah keterampilan komunikasi yang utama dan amat bermanfaat jika dapat kamu praktikkan di tempat kerja.Komunikasi asertif sangat identik dengan komunikasi yang memperhatikan rasa empati dan terbuka.

Komunikasi yang asertif dapat memperkuat hubungan dengan rekan kerja dan atasan. Selain itu, percaya atau tidak, hal ini juga dapat mengurangi stres karena lewat komunikasi asertif lebih mengedepankan hati Nurani sehingga dapat meredam konflik.

Stres juga biasanya terjadi karena kamu terpaksa menerima beban kerja lebih akibat tak mampu berkata “tidak” pada atasan. Komunikasi asertif membantu kamu untuk menyatakan penolakan, tanpa harus membuat orang yang meminta tolong kepada kamu kecewa atau malah berbalik defensif.

Pertanyaannya apakah Kawan Bicara sulit melakukan komunikasi asertif ini? Sebetulnya tidak juga jika dipelajari dengan benar.

Tantangannya memang ada pada latihan, apalagi kalau kita bukan tergolong orang yang berkepribadian asertif. Oh, ya, asertif ini sama sekali berbeda, lho dengan agresif. Asertif lebih seperti jalan tengah antara agresif dan pasif.

Perlu diketahui, komunikasi yang agresif hanya akan melukai atau menyerang lawan bicara. Sementara komunikasi yang pasif akan menyebabkan stres dan rasa benci, yang pada akhirnya juga bisa menjadi agresif. Hal ini baik komunikasi agresif, maupun pasif, keduanya tidak akan dapat menyampaikan maksud pesan dengan efektif.

Berkomunikasi dengan asertif memungkinkan kita bicara sambil tetap menghormati kebutuhan dan hak semua orang, termasuk diri sendiri. Namun, kita juga dapat tetap menjaga batas dalam hubungan tanpa harus mengabaikan hak lawan bicara.

Nah, mari kita simak langkah-langkah yang bisa kita pelajari dan praktikkan untuk menguasai komunikasi asertif ini, sebagai berikut:

1. Sampaikan faktanya dan tidak menghakimi

Pernahkah Kawan Bicara merasa kesal dengan ulah seorang rekan kerja yang selalu terlambat menyerahkan laporan? Pada akhirnya, kita juga jadi terburu-buru memeriksa hasil pekerjaannya untuk mengejar tenggat waktu proyek.

Alih-alih menggunakan kata-kata atau menyematkan label negatif pada sang rekan kerja, kita bisa menyampaikan yang faktual-faktual saja. Contohnya, “Pak, mestinya kemarin, saya terima laporan. Sekarang saya hanya punya waktu hari ini, buat memeriksa. Bulan depan bisa lebih awal, ya.”

2. Tidak membesar-besarkan efek dari perilaku negatif lawan bicara

Mirip dengan langkah pertama, intinya jangan menjadi “drama queen” atau mendramatisir keadaan. Tak perlu kata-kata berlebihan, sampaikan saja apa adanya.

3. Menggunakan kata “saya”

Kalau menggunakan kata “Anda” atau “kamu”, maka yang terdengar adalah kita menyerang atau menghakimi. Lawan bicara akan cenderung menjadi defensif karenanya. Menggunakan kata “saya” akan memfokuskan pernyataan pada bagaimana perasaan kita dan bagaimana perilaku lawan bicara memengaruhi kita juga.

Kata “saya” juga membantu menguasai reaksi sendiri dan lebih sedikit menyalahkan lawan bicara. Kita akan cenderung memberikan contoh solusi atau rasa tanggung jawab dan menggerakkan lawan bicara untuk sama-sama melakukan perubahan positif.

4. Melatih bahasa tubuh dan nada bicara

Posisikan tubuh kita untuk mencerminkan kepercayaan diri saat berkomunikasi, misalnya berdiri tegak, menatap mata lawan bicara, namun tetap rileks. Bicaralah dengan nada yang tegas, tapi tetap menyenangkan, tidak intimidatif.

5. Mendengarkan dan bertanya

Kedua hal ini amat penting dalam berkomunikasi. Ketika berkomunikasi, dengarkan baik-baik apa yang lawan bicara sampaikan. Segeralah bertanya agar kita juga dapat mengambil dan memahami sudut pandang lawan bicara.

6. Win-win solution

Kita harus berupaya mengarahkan komunikasi untuk mencapai kompromi. Carilah cara agar kita dan orang lain yang diajak berkomunikasi dapat menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan berdua.

Intinya, kalau menyimak satu demi satu langkah di atas, sepertinya tempat kerja akan selalu terasa damai dan menyenangkan, kalau saja orang-orangnya mampu berkomunikasi secara asertif.

Kalau saat ini situasi itu belum tercapai, mengapa tidak dimulai dari kamu, Kawan Bicara? Boleh jadi kebiasaan atau kemampuan ini nantinya akan menular di antara rekan-rekan kerja kita sendiri.

Kalau kita merasa harus memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal berkomunikasi, khususnya berkomunikasi di tempat kerja, kita bisa mengikuti pelatihan atau training komunikasi asertif. Talkactive.id sangat siap membantu mengembangkan skill komunikasi asertif kamu, segera konsultasikan bersama pakarnya di bit.ly/info-talkactive-id

Source: glint.com, hellosehat.com

Share This:

Pernahkah Kawan Bicara mengalami kejadian dimana saat mampu mengekspresikan diri dengan jujur dan mempertahankan sudut pandang kita saat berkomunikasi, sambil tetap menghormati hak orang lain dan terbuka terhadap perspektif mereka?

Jika ada yang kurang paham, penulis akan menjelaskan bahwa hal ini dikenal sebagai komunikasi asertif. Komunikasi asertif adalah keterampilan komunikasi yang utama dan amat bermanfaat jika dapat kamu praktikkan di tempat kerja.Komunikasi asertif sangat identik dengan komunikasi yang memperhatikan rasa empati dan terbuka.

Komunikasi yang asertif dapat memperkuat hubungan dengan rekan kerja dan atasan. Selain itu, percaya atau tidak, hal ini juga dapat mengurangi stres karena lewat komunikasi asertif lebih mengedepankan hati Nurani sehingga dapat meredam konflik.

Stres juga biasanya terjadi karena kamu terpaksa menerima beban kerja lebih akibat tak mampu berkata “tidak” pada atasan. Komunikasi asertif membantu kamu untuk menyatakan penolakan, tanpa harus membuat orang yang meminta tolong kepada kamu kecewa atau malah berbalik defensif.

Pertanyaannya apakah Kawan Bicara sulit melakukan komunikasi asertif ini? Sebetulnya tidak juga jika dipelajari dengan benar.

Tantangannya memang ada pada latihan, apalagi kalau kita bukan tergolong orang yang berkepribadian asertif. Oh, ya, asertif ini sama sekali berbeda, lho dengan agresif. Asertif lebih seperti jalan tengah antara agresif dan pasif.

Perlu diketahui, komunikasi yang agresif hanya akan melukai atau menyerang lawan bicara. Sementara komunikasi yang pasif akan menyebabkan stres dan rasa benci, yang pada akhirnya juga bisa menjadi agresif. Hal ini baik komunikasi agresif, maupun pasif, keduanya tidak akan dapat menyampaikan maksud pesan dengan efektif.

Berkomunikasi dengan asertif memungkinkan kita bicara sambil tetap menghormati kebutuhan dan hak semua orang, termasuk diri sendiri. Namun, kita juga dapat tetap menjaga batas dalam hubungan tanpa harus mengabaikan hak lawan bicara.

Nah, mari kita simak langkah-langkah yang bisa kita pelajari dan praktikkan untuk menguasai komunikasi asertif ini, sebagai berikut:

1. Sampaikan faktanya dan tidak menghakimi

Pernahkah Kawan Bicara merasa kesal dengan ulah seorang rekan kerja yang selalu terlambat menyerahkan laporan? Pada akhirnya, kita juga jadi terburu-buru memeriksa hasil pekerjaannya untuk mengejar tenggat waktu proyek.

Alih-alih menggunakan kata-kata atau menyematkan label negatif pada sang rekan kerja, kita bisa menyampaikan yang faktual-faktual saja. Contohnya, “Pak, mestinya kemarin, saya terima laporan. Sekarang saya hanya punya waktu hari ini, buat memeriksa. Bulan depan bisa lebih awal, ya.”

2. Tidak membesar-besarkan efek dari perilaku negatif lawan bicara

Mirip dengan langkah pertama, intinya jangan menjadi “drama queen” atau mendramatisir keadaan. Tak perlu kata-kata berlebihan, sampaikan saja apa adanya.

3. Menggunakan kata “saya”

Kalau menggunakan kata “Anda” atau “kamu”, maka yang terdengar adalah kita menyerang atau menghakimi. Lawan bicara akan cenderung menjadi defensif karenanya. Menggunakan kata “saya” akan memfokuskan pernyataan pada bagaimana perasaan kita dan bagaimana perilaku lawan bicara memengaruhi kita juga.

Kata “saya” juga membantu menguasai reaksi sendiri dan lebih sedikit menyalahkan lawan bicara. Kita akan cenderung memberikan contoh solusi atau rasa tanggung jawab dan menggerakkan lawan bicara untuk sama-sama melakukan perubahan positif.

4. Melatih bahasa tubuh dan nada bicara

Posisikan tubuh kita untuk mencerminkan kepercayaan diri saat berkomunikasi, misalnya berdiri tegak, menatap mata lawan bicara, namun tetap rileks. Bicaralah dengan nada yang tegas, tapi tetap menyenangkan, tidak intimidatif.

5. Mendengarkan dan bertanya

Kedua hal ini amat penting dalam berkomunikasi. Ketika berkomunikasi, dengarkan baik-baik apa yang lawan bicara sampaikan. Segeralah bertanya agar kita juga dapat mengambil dan memahami sudut pandang lawan bicara.

6. Win-win solution

Kita harus berupaya mengarahkan komunikasi untuk mencapai kompromi. Carilah cara agar kita dan orang lain yang diajak berkomunikasi dapat menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan berdua.

Intinya, kalau menyimak satu demi satu langkah di atas, sepertinya tempat kerja akan selalu terasa damai dan menyenangkan, kalau saja orang-orangnya mampu berkomunikasi secara asertif.

Kalau saat ini situasi itu belum tercapai, mengapa tidak dimulai dari kamu, Kawan Bicara? Boleh jadi kebiasaan atau kemampuan ini nantinya akan menular di antara rekan-rekan kerja kita sendiri.

Kalau kita merasa harus memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal berkomunikasi, khususnya berkomunikasi di tempat kerja, kita bisa mengikuti pelatihan atau training komunikasi asertif. Talkactive.id sangat siap membantu mengembangkan skill komunikasi asertif kamu, segera konsultasikan bersama pakarnya di bit.ly/info-talkactive-id

Source: glint.com, hellosehat.com

Share This:

More Articles

News

Menu
Open chat