fbpx

Mengupas Gaya Komunikasi Tokoh: Mahatma Gandhi

gaya komunikasi

Siapa yang tidak mengenal Mahatma Gandhi? Secara visual tampilan Gandhi tak mencerminkan sosok pemimpin gagah dengan badan tegap, serta ketegasan yang membuat semua orang tunduk kepadanya. Namun, jangan salah sangka, justru dibalik perawakan yang seperti tetua bijak mencerminkan kharisma sebagai pemimpin kemerdekaan India pada abad ke-20.

Gaya kepemimpinan karismatik Mahatma Gandhi ditunjukkan dengan adanya pengaruh ajaran Satya dan Ahimsa yang kuat terhadap rakyat India dan orang-orang di luar India, sehingga mampu memotivasi dan menginspirasi mereka untuk memperjuangkan kemerdekaannya.

Selain itu, Gandhi mampu menghubungkan visi kelompok dengan nilai-nilai, cita-cita, dan aspirasi rakyat India yang mengakar kuat ke dalam komitmen dan identitas emosional para pengikutnya.

Penulis merangkum ada tujuh ‘funfact’ terkait cara komunikasi Gandhi yang membentuk personanya sebagai pemimpin.

Hal pertama adalah penyampaian sebuah visi yang menarik. Ia mampu menginspirasi pengikut dan orang lain yang mengenalnya. Selama perjuangan kemerdekaan India, Gandhi memiliki visi “Menegakkan Kebenaran Tanpa Kekerasan” (Prinsip Satyagraha-Ahimsa).

Berdasarkan visi tersebut, Mahatma Gandhi cenderung memiliki gaya kepemimpinan karismatik visioner, dimana dirinya memiliki pandangan yang jauh ke depan untuk bangsanya dan mencapai tujuan tersebut melalui penerapan prinsip Satyagraha-Ahimsa.

Kedua, ia bisa menggunakan bentuk komunikasi yang kuat dan ekspresif saat mencapai visi itu. Perlu diketahui, bentuk komunikasi Gandhi memiliki daya tarik pribadi (kekuatan karismatik) tersendiri bagi orang yang dipimpinnya.

Para pengikutnya memandang Gandhi berani mengekspresikan karakter pribadinya yang sangat inspiratif dan mampu menciptakan pengaruh yang kuat saat mengajarkan prinsip-prinsip hidupnya kepada para pengikutnya.

Gaya komunikasi tersebut pun mampu mengantarkan Gandhi mencapai visinya, misalnya saat Gandhi menulis surat kepada pemerintahan Inggris di Afrika Selatan dan menulis di surat kabar dengan menggunakan gaya bahasa yang komunikatif, sehingga para pembaca (penguasa) tersentuh dengan tulisan Gandhi.

Ketiga, ia berani mengambil resiko pribadi dan membuat pengorbanan diri untuk mencapai visi itu. Hal tersebut terlihat dari pengorbanan dirinya dalam pengambilan resiko untuk melawan penguasa melalui gerakan perlawanan pasif-nonkooperatif melawan hukum diskriminatif, serta melakukan aksi “demonstrasi damai” dan mogok kerja yang diikuti oleh ribuan rakyat India.

Keempat, ia mahir menyampaikan harapan yang tinggi dan memperlihatkan keyakinan kepada pengikutnya. Gandhi juga diberkahi keyakinan diri dan ketenangan.

Keyakinan yang kuat dalam diri Gandhi ditunjukkan melalui sikapnya yang tidak pernah takut terhadap ancaman apapun dengan mengatakan, “Jika Tuhan telah melindungi dari dalam, maka perlindungan dari luar tidak diperlukan.” Hal tersebut berhasil menciptakan keyakinan yang kuat dalam diri para pengikutnya untuk mencapai harapan tersebut.

Kelima, ia menjadi “role model” bagi para pengikutnya, apapun yang dikatakan dan dilakukan akan ditiru dan dilaksanakan oleh para pengikutnya. Para pengikut tersebut memandang perilaku dan ucapan Gandhi sebagai bentuk perilaku yang konsisten akan visi mereka.

Salah satu contohnya adalah saat Gandhi menerapkan ajarannya untuk melawan penjajah Inggris dengan cara menggabungkan prinsip Satyagraha dan Ahimsa, sehingga terbentuklah perang tanpa kekerasan.

Keenam, Gandhi mampu mengelola kesan pengikut terhadap pemimpin. Sehingga perilaku dan ajaran yang disampaikan oleh Gandhi tersebut mampu mendorong para pengikutnya tergabung dalam gerakannya secara sukarela.

Bahkan seorang Mahatma Gandhi pun mampu mengubah Motilal Nehru yang terbiasa dengan kemegahan menuju sifat kesederhanaan. Karisma yang diberikan Gandhi tersebutlah yang mampu membuat para pengikutnya merasa terkesan sehingga mengikuti setiap ajarannya.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam tulisan Copley (1987) yang mengatakan, “Pengaruh moral Gandhi terhadap para pengikutnya sangat menakjubkan.”

Terakhir, ia bisa membangun identifikasi dengan kelompok atau organisasi. Maksudnya, Gandhi membangun identifikasi kelompok melalui sikap nasionalisme dan patriotis kepada para pengikutnya melalui pandangannya tentang kemerdekaan India.

Gandhi menyatakan bahwa kemerdekaan tersebut merupakan milik semua orang India, terlepas dari ras, agama, kasta atau warna yang berbeda, karena semua rakyat India hidup dalam persahabatan yang sempurna serta berhak memperjuangkan dan menikmati kemerdekaan tersebut. Alhasil, hal tersebut pun mampu menyatukan rakyat India.

Kesimpulan penulis, Gandhi adalah sosok pemimpin yang mampu mengendalikan dinamika dan ekspresi emosinya saat berkomunikasi dengan orang lain, dan biasanya komunikasi ini bertujuan untuk menggali data.

Kecenderungan nya secara positif yakni; analitikal, memperhatikan detail, teratur, efisien, obyektif dan dapat diandalkan. Sedangkan, kecenderungan negatif terletak pada rasa curiga, pesimis, cenderung lambat, suka berdebat, dan sulit mengambil keputusan.

Bagaimana menurutmu, Kawan Bicara?

Sumber Gambar: www.biography.com

Share This:

gaya komunikasi

Siapa yang tidak mengenal Mahatma Gandhi? Secara visual tampilan Gandhi tak mencerminkan sosok pemimpin gagah dengan badan tegap, serta ketegasan yang membuat semua orang tunduk kepadanya. Namun, jangan salah sangka, justru dibalik perawakan yang seperti tetua bijak mencerminkan kharisma sebagai pemimpin kemerdekaan India pada abad ke-20.

Gaya kepemimpinan karismatik Mahatma Gandhi ditunjukkan dengan adanya pengaruh ajaran Satya dan Ahimsa yang kuat terhadap rakyat India dan orang-orang di luar India, sehingga mampu memotivasi dan menginspirasi mereka untuk memperjuangkan kemerdekaannya.

Selain itu, Gandhi mampu menghubungkan visi kelompok dengan nilai-nilai, cita-cita, dan aspirasi rakyat India yang mengakar kuat ke dalam komitmen dan identitas emosional para pengikutnya.

Penulis merangkum ada tujuh ‘funfact’ terkait cara komunikasi Gandhi yang membentuk personanya sebagai pemimpin.

Hal pertama adalah penyampaian sebuah visi yang menarik. Ia mampu menginspirasi pengikut dan orang lain yang mengenalnya. Selama perjuangan kemerdekaan India, Gandhi memiliki visi “Menegakkan Kebenaran Tanpa Kekerasan” (Prinsip Satyagraha-Ahimsa).

Berdasarkan visi tersebut, Mahatma Gandhi cenderung memiliki gaya kepemimpinan karismatik visioner, dimana dirinya memiliki pandangan yang jauh ke depan untuk bangsanya dan mencapai tujuan tersebut melalui penerapan prinsip Satyagraha-Ahimsa.

Kedua, ia bisa menggunakan bentuk komunikasi yang kuat dan ekspresif saat mencapai visi itu. Perlu diketahui, bentuk komunikasi Gandhi memiliki daya tarik pribadi (kekuatan karismatik) tersendiri bagi orang yang dipimpinnya.

Para pengikutnya memandang Gandhi berani mengekspresikan karakter pribadinya yang sangat inspiratif dan mampu menciptakan pengaruh yang kuat saat mengajarkan prinsip-prinsip hidupnya kepada para pengikutnya.

Gaya komunikasi tersebut pun mampu mengantarkan Gandhi mencapai visinya, misalnya saat Gandhi menulis surat kepada pemerintahan Inggris di Afrika Selatan dan menulis di surat kabar dengan menggunakan gaya bahasa yang komunikatif, sehingga para pembaca (penguasa) tersentuh dengan tulisan Gandhi.

Ketiga, ia berani mengambil resiko pribadi dan membuat pengorbanan diri untuk mencapai visi itu. Hal tersebut terlihat dari pengorbanan dirinya dalam pengambilan resiko untuk melawan penguasa melalui gerakan perlawanan pasif-nonkooperatif melawan hukum diskriminatif, serta melakukan aksi “demonstrasi damai” dan mogok kerja yang diikuti oleh ribuan rakyat India.

Keempat, ia mahir menyampaikan harapan yang tinggi dan memperlihatkan keyakinan kepada pengikutnya. Gandhi juga diberkahi keyakinan diri dan ketenangan.

Keyakinan yang kuat dalam diri Gandhi ditunjukkan melalui sikapnya yang tidak pernah takut terhadap ancaman apapun dengan mengatakan, “Jika Tuhan telah melindungi dari dalam, maka perlindungan dari luar tidak diperlukan.” Hal tersebut berhasil menciptakan keyakinan yang kuat dalam diri para pengikutnya untuk mencapai harapan tersebut.

Kelima, ia menjadi “role model” bagi para pengikutnya, apapun yang dikatakan dan dilakukan akan ditiru dan dilaksanakan oleh para pengikutnya. Para pengikut tersebut memandang perilaku dan ucapan Gandhi sebagai bentuk perilaku yang konsisten akan visi mereka.

Salah satu contohnya adalah saat Gandhi menerapkan ajarannya untuk melawan penjajah Inggris dengan cara menggabungkan prinsip Satyagraha dan Ahimsa, sehingga terbentuklah perang tanpa kekerasan.

Keenam, Gandhi mampu mengelola kesan pengikut terhadap pemimpin. Sehingga perilaku dan ajaran yang disampaikan oleh Gandhi tersebut mampu mendorong para pengikutnya tergabung dalam gerakannya secara sukarela.

Bahkan seorang Mahatma Gandhi pun mampu mengubah Motilal Nehru yang terbiasa dengan kemegahan menuju sifat kesederhanaan. Karisma yang diberikan Gandhi tersebutlah yang mampu membuat para pengikutnya merasa terkesan sehingga mengikuti setiap ajarannya.

Hal tersebut juga ditegaskan dalam tulisan Copley (1987) yang mengatakan, “Pengaruh moral Gandhi terhadap para pengikutnya sangat menakjubkan.”

Terakhir, ia bisa membangun identifikasi dengan kelompok atau organisasi. Maksudnya, Gandhi membangun identifikasi kelompok melalui sikap nasionalisme dan patriotis kepada para pengikutnya melalui pandangannya tentang kemerdekaan India.

Gandhi menyatakan bahwa kemerdekaan tersebut merupakan milik semua orang India, terlepas dari ras, agama, kasta atau warna yang berbeda, karena semua rakyat India hidup dalam persahabatan yang sempurna serta berhak memperjuangkan dan menikmati kemerdekaan tersebut. Alhasil, hal tersebut pun mampu menyatukan rakyat India.

Kesimpulan penulis, Gandhi adalah sosok pemimpin yang mampu mengendalikan dinamika dan ekspresi emosinya saat berkomunikasi dengan orang lain, dan biasanya komunikasi ini bertujuan untuk menggali data.

Kecenderungan nya secara positif yakni; analitikal, memperhatikan detail, teratur, efisien, obyektif dan dapat diandalkan. Sedangkan, kecenderungan negatif terletak pada rasa curiga, pesimis, cenderung lambat, suka berdebat, dan sulit mengambil keputusan.

Bagaimana menurutmu, Kawan Bicara?

Sumber Gambar: www.biography.com

Share This:

More Articles

News

Menu