fbpx

Mengupas Gaya Pemimpin Dalam Berkomunikasi: Churchill vs Hitler

gaya berkomunikasi

Awal musim panas, tepatnya 4 Juni 1940 situasi semakin terjepit dan pasukan Nazi sudah mengepung pasukan-pasukan sekutu yang tersisa di daratan Eropa. Mereka berhasil dikurung olah bala tentara Hitler, Sang Fuhrer pasukan elit Waffen-SS hingga didesak di kawasan pantai dan pelabuhan Dunkerque (Dunkirk), Prancis.

Jauh di daratan Britania, sosok pendamping Raja Inggris George VI diharuskan mengambil sikap. Dengan pesona kebiasaan merokok dengan cerutunya, lalu ditopang tubuh tambunnya ditambah dengan usianya yang sudah tak muda lagi namun langkah tegapnya seperti menyiratkan ada “semangat” dan “api”.

Let me tell you, he was Winston Churchill, the Prime Minister of United Kingdom of Britain. Bagi Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman saat itu mungkin menganggapnya sebagai mimpi buruk. Sebab, pada pertempuran perang dunia kedua, ia satu satunya yang sukar dikalahkan di pertempuran front barat. So, he was a nemesis for Hitler, right?

Kamu harus tahu, tokoh ini yang mewakili semangat masyarakat Inggris yang sebagai bangsa yang anti menyerah dan tahan banting. Dalam pidato dihadapan Dewan Rakyat, Churchill
menyebut peristiwa ini sebagai musibah militer yang sangat besar.

Ia mengatakan bahwa seluruh akar dan inti serta otak Angkatan Darat Britania Raya terjebak di Dunkerque dan akan lenyap atau ditangkap. Dalam pidato We shall fight on the beachestanggal 4 Juni, Churchill memuji operasi evakuasi mereka sebagai “mukjizat keselamatan”.

Operasi ini dirancang ketika sejumlah besar tentara Britania, Prancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung tentara Jerman saat Pertempuran Prancis.

“A brilliant man will find a way not to fight a war.” (Orang cerdas akan menemukan cara untuk tidak pergi berperang). Itu lah pola pikir Churchill yang gila saat itu dimana ia ingin mencari cara memenangkan perang tanpa harus mengorbankan lebih banyak lagi korban.

Churchill juga mengingatkan bangsanya bahwa perlu berhati-hati, jangan sampai penyelamatan ini dipandang sebagai kemenangan. Ia berpendapat, evakuasi bukanlah jalan untuk memenangi pertempuran, tetapi cara lain untuk meraih kemenangan dalam perang.

Bagaimana dengan kubu sebelah? Di daratan Eropa lainnya, Sang Fuhrer menargetkan pasukannya untuk membabat habis sisa pasukan sekutu yang sudah terjeput di ujung Prancis tersebut.

Sobat Talkactive (Kawan Bicara), penulis tidak ingin membahas jalannya perang, namun pola pikir kedua pemimpin dalam mengambil sikap saat berjalannya perang patut kita ketahui. Salah langkah dalam berfikir, salah langkah dalam mengkomunikasikan tujuan akan berdampak pada jalannya perang.

Jika Churchill memilih jalan mundur untuk kemenangan tertunda, Hitler memilih langkah agresif dengan serangan total tanpa memikirkan bahan bakar dan sumber daya perang akan menipis. Karena kedua kubu sudah kehabisan materil dan sumberdaya manusia, hanya memilih waktu ‘mundur’ sejenak yang tepatlah sebagai tolak ukur kedewasaan seorang pemimpin.

Kenapa Hitler sedemikian agresifnya? Apakah Hitler tidak pernah belajar? Menurut penulis, ia harus menginstruksikan pasukannya untuk perkuat pertahanan di seluruh pantai utara Eropa untuk menunggu serangan balasan sekutu.

Ia justru memerintahkan pasukan udara Nazi untuk memborbardir kota London yang notabene menghabiskan amunisi. Hitler juga terkenal ambisius yang membuat bawahannya menjadi segan sehingga tak jarang terjadi komunikasi satu arah.

Hal ini berdampak fatal saat operasi D-Day alias operasi invasi Normandia yang dilakukan Sekutu pada empat tahun kemudian(6/6/1944), dimana Jerman akan bisa menyapu habis pasukan sekutu tapi nasib berkata lain. Kejadian tersebut adalah pintu pasukan sekutu dalam memenangkan perang dunia kedua.

Hitler diceritakan sedang tertidur, namun anak buahnya tak berani membangunkannya. Akibatnya pasukan sekutu berhasil mendarat di pantai Normandia, Prancis pada dini hari. Pasukan Jerman tidak mengambil langkah signifikan karena harus menunggu instruksi Hitler yang tengah tertidur.

Sangat ironis bukan? Andaikata Hitler dikenal sebagai sosok yang sedikit santun, mungkin anak buahnya akan membangunkannya untuk ambil komando. Mungkin saja pasukan Nazi berhasil menggagalkan pasukan sekutu untuk mendarat di daratan Eropa lagi.

Selamat buat Churchill, langkah mundur empat tahun sebelumnya memiliki makna yang emosional, dimana ia memilih untuk memulangkan pasukannya untuk mempersiapkan serangan lain untuk hasil yang lebih baik.

Intinya, Hitler adalah sosok pemimpin tipikal orator berkharismatik, ia mampu memikat hati warga Jerman untuk menjadikan ras arya terbaik didunia. Namun jalannya salah dengan menginvansi negara lain.

Sebaliknya Churcill adalah sosok manusia uzur yang dengan cerutunya bisa berfikir bijaksana untuk meyakinkan masyarakat Inggris agar tidak patah arang dalam menghadapi hegemoni Nazi Jerman. Jadi, bagaimana menurut kamu?(*)

Source:

Churchill 2003, hlm. 212, Churchill,

Winston (1959) Memoirs of the Second World War, Boston : Houghton Mifflin, ISBN 0-395-59968-7

Overlord, D-Day, June 6, 1944, Max Hastings, 1984

Normandy 1944, German Military Organisation, Combat Power and Organizational Effectiveness; Niklas Zetterling, J.J. Fedorowicz Publishing Inc., 2000, ISBN 0-921991-56-8.

 

Penulis: Mustaqim Amna

Share This:

gaya berkomunikasi

Awal musim panas, tepatnya 4 Juni 1940 situasi semakin terjepit dan pasukan Nazi sudah mengepung pasukan-pasukan sekutu yang tersisa di daratan Eropa. Mereka berhasil dikurung olah bala tentara Hitler, Sang Fuhrer pasukan elit Waffen-SS hingga didesak di kawasan pantai dan pelabuhan Dunkerque (Dunkirk), Prancis.

Jauh di daratan Britania, sosok pendamping Raja Inggris George VI diharuskan mengambil sikap. Dengan pesona kebiasaan merokok dengan cerutunya, lalu ditopang tubuh tambunnya ditambah dengan usianya yang sudah tak muda lagi namun langkah tegapnya seperti menyiratkan ada “semangat” dan “api”.

Let me tell you, he was Winston Churchill, the Prime Minister of United Kingdom of Britain. Bagi Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman saat itu mungkin menganggapnya sebagai mimpi buruk. Sebab, pada pertempuran perang dunia kedua, ia satu satunya yang sukar dikalahkan di pertempuran front barat. So, he was a nemesis for Hitler, right?

Kamu harus tahu, tokoh ini yang mewakili semangat masyarakat Inggris yang sebagai bangsa yang anti menyerah dan tahan banting. Dalam pidato dihadapan Dewan Rakyat, Churchill
menyebut peristiwa ini sebagai musibah militer yang sangat besar.

Ia mengatakan bahwa seluruh akar dan inti serta otak Angkatan Darat Britania Raya terjebak di Dunkerque dan akan lenyap atau ditangkap. Dalam pidato We shall fight on the beachestanggal 4 Juni, Churchill memuji operasi evakuasi mereka sebagai “mukjizat keselamatan”.

Operasi ini dirancang ketika sejumlah besar tentara Britania, Prancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung tentara Jerman saat Pertempuran Prancis.

“A brilliant man will find a way not to fight a war.” (Orang cerdas akan menemukan cara untuk tidak pergi berperang). Itu lah pola pikir Churchill yang gila saat itu dimana ia ingin mencari cara memenangkan perang tanpa harus mengorbankan lebih banyak lagi korban.

Churchill juga mengingatkan bangsanya bahwa perlu berhati-hati, jangan sampai penyelamatan ini dipandang sebagai kemenangan. Ia berpendapat, evakuasi bukanlah jalan untuk memenangi pertempuran, tetapi cara lain untuk meraih kemenangan dalam perang.

Bagaimana dengan kubu sebelah? Di daratan Eropa lainnya, Sang Fuhrer menargetkan pasukannya untuk membabat habis sisa pasukan sekutu yang sudah terjeput di ujung Prancis tersebut.

Sobat Talkactive (Kawan Bicara), penulis tidak ingin membahas jalannya perang, namun pola pikir kedua pemimpin dalam mengambil sikap saat berjalannya perang patut kita ketahui. Salah langkah dalam berfikir, salah langkah dalam mengkomunikasikan tujuan akan berdampak pada jalannya perang.

Jika Churchill memilih jalan mundur untuk kemenangan tertunda, Hitler memilih langkah agresif dengan serangan total tanpa memikirkan bahan bakar dan sumber daya perang akan menipis. Karena kedua kubu sudah kehabisan materil dan sumberdaya manusia, hanya memilih waktu ‘mundur’ sejenak yang tepatlah sebagai tolak ukur kedewasaan seorang pemimpin.

Kenapa Hitler sedemikian agresifnya? Apakah Hitler tidak pernah belajar? Menurut penulis, ia harus menginstruksikan pasukannya untuk perkuat pertahanan di seluruh pantai utara Eropa untuk menunggu serangan balasan sekutu.

Ia justru memerintahkan pasukan udara Nazi untuk memborbardir kota London yang notabene menghabiskan amunisi. Hitler juga terkenal ambisius yang membuat bawahannya menjadi segan sehingga tak jarang terjadi komunikasi satu arah.

Hal ini berdampak fatal saat operasi D-Day alias operasi invasi Normandia yang dilakukan Sekutu pada empat tahun kemudian(6/6/1944), dimana Jerman akan bisa menyapu habis pasukan sekutu tapi nasib berkata lain. Kejadian tersebut adalah pintu pasukan sekutu dalam memenangkan perang dunia kedua.

Hitler diceritakan sedang tertidur, namun anak buahnya tak berani membangunkannya. Akibatnya pasukan sekutu berhasil mendarat di pantai Normandia, Prancis pada dini hari. Pasukan Jerman tidak mengambil langkah signifikan karena harus menunggu instruksi Hitler yang tengah tertidur.

Sangat ironis bukan? Andaikata Hitler dikenal sebagai sosok yang sedikit santun, mungkin anak buahnya akan membangunkannya untuk ambil komando. Mungkin saja pasukan Nazi berhasil menggagalkan pasukan sekutu untuk mendarat di daratan Eropa lagi.

Selamat buat Churchill, langkah mundur empat tahun sebelumnya memiliki makna yang emosional, dimana ia memilih untuk memulangkan pasukannya untuk mempersiapkan serangan lain untuk hasil yang lebih baik.

Intinya, Hitler adalah sosok pemimpin tipikal orator berkharismatik, ia mampu memikat hati warga Jerman untuk menjadikan ras arya terbaik didunia. Namun jalannya salah dengan menginvansi negara lain.

Sebaliknya Churcill adalah sosok manusia uzur yang dengan cerutunya bisa berfikir bijaksana untuk meyakinkan masyarakat Inggris agar tidak patah arang dalam menghadapi hegemoni Nazi Jerman. Jadi, bagaimana menurut kamu?(*)

Source:

Churchill 2003, hlm. 212, Churchill,

Winston (1959) Memoirs of the Second World War, Boston : Houghton Mifflin, ISBN 0-395-59968-7

Overlord, D-Day, June 6, 1944, Max Hastings, 1984

Normandy 1944, German Military Organisation, Combat Power and Organizational Effectiveness; Niklas Zetterling, J.J. Fedorowicz Publishing Inc., 2000, ISBN 0-921991-56-8.

 

Penulis: Mustaqim Amna

Share This:

More Articles

News

Menu
Open chat